Jumat, 19 Desember 2008

Krisis Batu Bara di Empat PLTU

Kasus : Krisis Batu Bara di Empat PLTU, Ancaman Krisis Listrik Jawa-Bali

Deskripsi : Krisis listrik kembali mengancam kawasan Jawa dan Bali akibat menipisnya

stok batu bara untuk pembangkit PLN. Kepala Bidang Energi Batu Bara PT PLN mengatakan bahwa pasokan untuk pembangkit utama di Jawa terus menipis. Hampir semua stok PLTU di bawah 30 hari. Misalnya saja PLTU Paiton hanya memiliki stok untuk 21 hari, stok PLTU Tanjung Jati B hanya cukup untuk 23 hari, PLTU Suralaya juga kurang dari 30 hari bahkan PLTU Cilacap minggu kemarin sempat tidak aktif karena kehabisan stok batu bara meski kini kembali beroperasi. Hampir setiap akhir tahun PLN memang mengalami krisis batu bara akibat gelombang tinggi. Itu menyebabkan kapal pengangkut batu bara sering tidak bisa merapat sesuai jadwal. Selain itu, krisis pasokan batu bara juga dipicu persoalan harga. Hampir masing-masing perusahaan pemasok batu bara pada setiap PLTU minta harga naik, padahal sudah ada surat dari Dirjen Minerbapahum (Departemen ESDM) bahwa kenaikan harga baru bisa dilakukan untuk pengiriman 2009. Krisis batu bara ini juga mengancam sejumlah pembangkit karena tender yang dilakukan PLN sering gagal. Sebagai langkah antisipasi, kini PLN menyampaikan penawaran kepada anggota asosiasi batu bara Australia sebanyak 24 perusahaan.

(Dikutip dari Jawa Pos edisi Kamis, 6 November 2008)


Adapun indikator krisis kasus di atas adalah :

  • Masalah sudah mengganggu operasional perusahaan sebagai bukti PLTU Cilacap sempat tidak beropesai karena kehabisan stok batu bara. Hal ini mengakibatkan bahaya yang berkelanjutan yaitu tender yang dilakukan PLN sering gagal.

  • Masalah menjadi sorotan publik yang menjadi perhatian media massa. Kasus ini telah diberitakan oleh Jawa Pos meskipun belum begitu gempar pemberitaannya karena memang ini merupakan berita baru.


Penyebab krisis kasus :

  • Faktor lingkungan yang tidak mendukung. Contoh dalam kasus yaitu kenaikan harga batu bara, serta gelombang air laut yang tinggi yang menyebabkan kapal angkut batu bara tidak dapat merapat sesuai jadwal.

  • Penurunan kualitas produksi. Contoh : PLTU Cilacap sempat tidak beroperasi. Hal ini menyebabkan krisis listrik kawasan Jawa-Bali semakin tinggi.

  • Adanya ketidakpuasan publik eksternal. Contoh dalam kasus : perusahaan pemasok batu bara meminta harga naik namun belum ada respon dari PT PLN karena PT PLN mengikuti surat yang telah dikeluarkan Dirjen Minerbapahum bahwa kenaikan harga baru berlaku pada pengiriman 2009.

  • Kurangnya kemampuan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan. Sebagai bukti dalam kasus di atas yaitu belum adanya antisipasi apabila terjadi gelombang tinggi yang dapat menghambat distribusi pemasokan batu bara pada masing-masing PLTU.


Tahapan Krisis :

  1. Predromal Crisis Stage tahap pre-krisis, disini sudah ada pertanda awal terjadinya krisis. Dalam kasus “krisis batu bara” tanda awal dalam bentuk jelas sekali yaitu keterlambatan kapal pengangkut batu bara. Masalahpun tidak dapat dihindari dan akhirnya menyebabkan stok batu bara menipis.

  2. Acute Crisis Stage pada tahap ini, orang sudah menyadari akan adanya krisis, mendapat sorotan media, ada korban. Kasus yang dialami oleh PT PLN ini sebenarnya adalah kasus lama yang muncul kembali. Pada akhir tahun lalu pasokan batu bara di PLTU Tanjung Jati B habis sehingga pasokan listrik Jawa-Bali defisit parah, akibatnya sering terjadi pemadaman bergilir di kawasan tersebut yang tidak bisa ditolerir bahkan Direktur Pembangkitan dan Energi Primer PT PLN saat itu, Ali Herman Ibrahim, dipecat. (sumber : Jawa Pos)

Apabila permasalahan kali ini tidak segera diatasi, maka tidak menutup kemungkinan kasus seperti tahun lalu bakal terulang lagi.

  1. Chronic Crisis Stage tahap ini disebut tahap peredaan atau masa pembersihan akibat dari krisis akut. Ada introspeksi diri dari organisasi ‘mengapa krisis bisa terjadi’ kemudian organisasi berusaha untuk menangani, menyelesaikan masalah dan melakukan perubahan-perubahan penting, mencari solusi. Disini PT PLN telah mengambil langkah antisipasi supaya kejadian tahun lalu tidak terulang kembali yaitu dengan menyampaikan penawaran kepada anggota asosiasi batu bara Australia serta rencana impor batu bara dari Republik Rakyat Tiongkok dan India. (sumber : Jawa Pos)

  2. Crisis Resolution Stage yaitu tahap dimana pelaksanaan rencana solusi krisis, ada tanda-tanda penyelesaian akhir. Tahap ini adalah masa dimana perusahaan semakin sadar bahwa krisis akan terjadi sewaktu-waktu dan lebih mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Pada tahap ini, PT PLN telah melobi anggota asosiasi batu bara Australia untuk kerjasama periode Desember 2008-Maret 2009. Selain itu rencana impor batu bara dari Republik Rakyat Tiongkok dan India sudah dalam masa penjajakan. (sumber : Jawa Pos)



0 komentar: